Home » , » Perjalanan ke Kaki Langit Memburu Blue Fire di Kawah Ijen (Kisah Perjalanan Bag.2)

Perjalanan ke Kaki Langit Memburu Blue Fire di Kawah Ijen (Kisah Perjalanan Bag.2)

Posted by bangkitbwi

Bayangan kita tentang mendaki gunung pastilah seru, lelah, tapimengasikkan. Tepat pukul sepuluh malam, kami antre tiket untuk masuk. Antrean sudah mengular panjang pertanda awal perjuangan akan dimulai. Dengan harga tiketnya Rp.7500, per orang ditambah parkir kendaraan Rp 10.000,- kami siap untuk berangkat. Tidak lupa berdoa dan beberapa bekal kami siapkan. Untuk sekedar tahu bagi yang belum pernah mencoba, beberapa bekal kita antara lain :
1. Senter atau yang lainnya yang berfungsi untuk penerangan, karena jalannya jelas tidak ada listrik seperti di jalanan kota.
2. Air minum minimal satu orang satu botol air mineral meskipun cuaca sangat dingin.
3. Baju hangat untuk sekedar menahan angin gunung yang sangat kencang.
4. Gunakan sepatu yang tidak licin, disarankan tidak pakai sandal jepit karena dijamin pasti putus tinggal telapak kakinya.
5. Siapkan masker satu orang lebih dari satu lembar.
6. Jangan lupa makanan atau minuman yang mengandung energi dan cepat diserap oleh tubuh.


Kembali ke cerita awal, Setelah antre tiket dan persiapan kembali kita antre mengular di pintu masuk untuk mulai perjalanan. Suasana malam itu sangat ceria, bercanda sambil cerita disepanjang jalan awal yang belum begitu menanjak. nampak pohon pinus berjajar di kegelapan malam. Udara yang awalnya sangat dingin sudah mulai berubah sedikit hangat. Nampaknya bukan udaranya yang hangat melainkan badan kita yang sudah mulai berkeringat.

Perjalanan tahap kedua dimulai, kemiringan jalan sudah mulai terasa. Suasana pejalan kaki yang jumlahnya ratusan orang sudah mulai berubah sunyi. Cerita dan canda-canda awal sudah sepi. Sebaliknya suara-suara aneh mulai terdengar: " huh...huh...huh....", "Oee tunggu..!, airnya mana?", "Brenti bentar bang!" "mana yang lainnya" dan masih banyak lagi suara serupa itu.

Tanjakan awal sudah kami lampaui. Pertanda buruk, tantangan semakin berat, tandanya di tepi-tepi jalan sudah mulai terlihat beberapa kelompok orang pekerja tambang belerang. Mereka sengaja menawarkan jasa angkutan orang untuk sampai di puncak dengan menggunakan troli (atau bahasa saya namanya gerobak), lumayan sih harga yang ditawarkan untuk sampai ke puncak setiap orang berkisar antara Rp 300.000,- atau bisa jadi sampai Rp.600.000. (mungkin dilihat dari berat badan calon penumpangnya, kalo badannya sebesar gardu harganya bisa jauh bertambah) Harga segitu pantas juga rasanya karena mereka harus bekerja secara tim, dua orang di depan menyeret dan satu orang di belakang sebagai driver merangkap sebagai tukang dorong. Sehingga dalam satu Tim ada tiga orang yang harus kompak.
Di area tanjakan kedua ini sudah mulai nampak beberapa pendaki yang lempar handuk alias Ampuuun.... terutama yang postur tubuhnya agak tidak seimbang (kegemukan, banyak lemak,dll)

Tantangan di tanjakan berikutnya, wow..... air sebotol sudah mulai habis, jalan setapak begitu dekat dengan mata. dan lebar jalan sudah mulai menyempit, hanya cukup untuk berjajar empat orang, kalau lebih... Pluung!. Di tanjakan ini harus ekstra teliti, gak kuat berhenti, ambil nafas kumpulkan tenaga lagi, jalan lagi. gak kuat lagi minggir lagi. Enam sampai tujuh langkah berhenti gak apa-apa, gak perlu malu karena yang lain juga begitu. Di tanjakan tahap kedua ini oksigen mulai menipis sehingga terasa pernapasan agak berat. angin sangat kencang tapi tidak terasa dingin. karena sudah kalah dengan keringat yang bercucuran.
Suasana tanjakan di punggung Ijen.

Setelah lepas dari tanjakan kedua kita sudah mulai lega karena malam gelap itu sudah mulai terasa ada jalan yang berjenis datar, nanjak lagi datar lagi begitu seterusnya sampai akhirnya masuk tantangan berikutnya. Angin berbau busuk mulai menerpa. Kalau yang tidak pernah mengenal dikira ada telur busuk atau ada teman lain yang sedang kentut. Semakin jauh kita berjalan bau semakin menyengat. empat lembar masker biasa tidak mampu untuk membendung bau ditambah rasa perih di mata yang semakin hebat. Suasana bahaya yang kami rasakan malam itu semakin terasa. Tapi jangan khawatir karena sudah diantisipasi oleh orang-orang yang menawarkan masker yang lebih kuat menahan gempuran asap belerang. "Masker ini menggunakan filter berbahan batu bara dan sudah diujicoba aman" Katanya si bapak. Mereka mematok harga Rp.25.000,- untuk satu masker. Kalau jumlahnya banyak biasanya bisa ditawar untuk sekedar mendapat diskon.

Masker khusus untuk menahan gempuran asap belerang kawah Ijen.
Tanpa pikir panjang kami langsung pakai dulu sebelum pingsan, baru bisa ambil uang di dompet dengan suasana sedikit tenang. Memang benar nafas kami agak sedikit lega meskipun agak ribet.

Setelah menggunakan masker itu baru kami sadar bahwa posisi kami sudah berada di puncak berdasarkan keterangan dari bapak penjual souvenir yang kami tanya, meskipun kami belum melihat kenampakan apapun selain lampu-lampu senter dari para pendaki yang mengular mengikuti bentuknya punggung gunung.
Beberapa kelompok pendaki sudah terlihat duduk-duduk bahkan sudah ada yang bergelimpangan dengan tikar batu dan berbantal rangsel. Nggak peduli dengan angin dan dingin nampaknya mereka sedang bermimpi di hotel berbintang.
Melepas lelah di puncak Ijen, Banyuwangi.

Berikutnya adalah tantangan terakhir "Memburu Api Biru" tantangan ini khusus bagi yang masih mempunyai tenaga ekstra karena kita harus turun ke bibir kawah yang lumayan terjal sejauh 800 meter ke bawah dari puncak Ijen. Bagi yang ingin melakukan, ada juga orang yang menawarkan sebagai pemandu jalan (mengantar blusukan) sampai ke bibir kawah. tapi bagi yang tidak mampu alias ampuuun.... cukup berdiri di puncak saja biasanya sudah bisa melihat blu fire, meskipun rejeki kita tergantung dari asap belerang yang beredar berdasarkan arah angin yang berhembus.
Jika rejeki anda terang maka akan tampak pemandangan seperti ini:

Blue Fire kawah Ijen Banyuwangi difoto dari puncak.
Kuasa Allah, Hebat kan? Tapi jika rejeki anda buram alias tertutup asap maka pemandangannya persis jika kita sedang memandang tembok rumah kita sendiri. itu yang dinamakan "Apes bin the Sial" Tapi jika mau berjuang 800 meter ke bawah mendekat ke bibir kawah pasti selalu ketemu.

Bagi yang tidak punya tenaga ekstra cukup duduk-duduk menunggu cahaya matahari pagi yang akan mengantarkan kita ke kaki langit.
Dan ternyata Woooowww....!!!!

Ikuti kelanjutannya pada episode kisah perjalanan ke Kaki Langit bagian -3.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

http://picasion.com/

Terbaru

    Facebook

    Total Tayangan

    About Me

    Foto Saya
    Paguyuban Kelompok Kerja Guru SD meliputi 24 kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi.Lahir 16 Januari 2008. Akta Notaris/PPAT,Muttaqien, S.H. dengan SK Menkeh R.I tanggal 03 Agustus 1992 Nomor C.186.03.01 Tahun 1992.