Home » , » Nama-nama Makanan Jadul Ini Hampir Lenyap Dari Ingatan Anak Kita

Nama-nama Makanan Jadul Ini Hampir Lenyap Dari Ingatan Anak Kita

Posted by bangkitbwi

Masih ingat ketika kita duduk di teras rumah sambil menunggu emak yang pulang dari pasar? berharap dapat oleh-oleh makanan.    Pertanyaan ini cocok untuk diceritakan oleh orang-orang yang lahir setelah tahun 50-an.  Tapi bagi anak-anak yang lahir di tahun 2000-an "Opo ae iki?" gak jelas.

Ya.. Di telinga mereka pasti pizza, hamburger atau lainnya yang sok keinggris-inggrisan.

Pembahasan kita kali ini bukan bermaksud untuk mengajak kembali ke era masa lalu.  Tapi sebaliknya mengajak kita untuk tersenyum menerawang ke masa lalu.  

Sekarang Anak-anak kita sering buang jajan seenaknya, sering menyisakan nasi dan buang seenaknya, kasihan itu rejeki dibuang-buang, gak tahu susahnya orang bisa bertahan hidup pada masa lalu. 

Dan yang lebih penting dari itu adalah menghargai masa lalu yang mengantar nyawa kita hingga masih melekat sampai saat ini.  

Nyawa?
Ya!!  harus diakui bahwa nyawa kita tertolong oleh makanan unik yang saat ini terdengar aneh di telinga anak-anak.


Langsung saja berikut ini adalah hasil ekspolasi dari anak-anak sendiri  yang penasaran dengan sejarah kehidupan ayah ibunya di masa lalu. dengan tajuk " Festival Makanan Jadul anak SD" Ini data dan wujud yang mereka dapat:


1. Blendung
Susah-susah nunggu emaknya dari pasar, paling poll dapat "blendung" ini sudah seneng. Sederhana jagung digodok sampek mblendung (bengkak) dicampur parutan kelapa sama garam, asin saja sudah cukup (beli bumbu yang lain gak punya uang). Belum kenal keju, tapi kalaupun ada keju ya gak pas juga.


2. Gatot
Kasihan ... ini makanan hasil pelanggaran HAM (Hak Asasi Makanan) tapi tidak perlu fatwa MUI.  Singkong, dikupas kulitnya, dilempar-lempar ke atas genting. Kehujanan, kepanasan yang punya gak peduli. 

Kalo yang empunya sudah kelaparan gak ada lagi yang dimakan terus diambil secukupnya, disiksa lagi. Direndem sampek 2 hari. kedinginan. Cukup? belum!

Masih harus dimutilasi kecil-kecil agar tidak dikenali polisi. Gak perlu alat canggih untuk memutilasi, cukup dengan tangan kita sendiri karena tubuh singkongnya sudah lonyot ada yang menghitam ada yang coklat. Selesai? belum! 

Masukkan lagi ke soblukan (alat penanak nasi) siksa lagi dengan panas 125 derajat. Kalo dia bisa ngomong ampuuuun! baru terus dicampur kelapa parutan.

Makannya pagi sebelum berangkat sekolah. itu sudah lumayan bisa nambah stamina waktu pelajaran olahraga. Tapi kalo setelah itu ketemu sama Matematika, dijamin 1000 persen pasti ngantuk. Tapi jangan khawatir ada penangkalnya ngantuk, caranya: "cukup tidur saja" karena pasti setelahnya akan dipenthung sama gurunya dan dijamin hilang ngantuknya.


3. Tiwul

Ini makanan merupakan produk turunan dari gatot. Cuma sistem penyiksaannya tidak terlalu panjang, tapi dampak kehancurannya sangat menakutkan. setelah turun dari genting, langsung masuk lumpang (alat tumbuk), pegang kayu penumbuk, diremuk sampek jadi tepung. Setelahnya dimasak seperti menanak nasi.

Makannya sore hari sebagai gantinya nasi, kalo ada teh paling banter merk "Pendhawa" (sekarang masih ada nggak ya?). kalo nggak ada teh biasanya pake rebusan daun kopi yang sudah menguning (akalnya kok bisa ya?) , sambil ngobrol ngalor ngidul. yang dibicarakan pasti Belanda, Jepang, penjara, romusha, dan sekitaran itu lah.

Saat masa aktifnya tiwul, manusia sangat menjunjung etika hidup, persatuan dan kebersamaan, lugu, tanpa pamrih, kekeh memegang filsafat "Memayu Hayuning Bhawono" (menjaga ketentraman dunia)  hebat kan? kangen juga!

Pada masa kejayaan Tiwul,  nongkrongnya manusia gak pernah bicara tentang Pilkada, yang isinya saling menjelek orang lain, karena filsafat hidupnya "Menang tanpo ngasorake", (oh ya, Pilkada belum ada ya?)  Tidak pernah bicara tentang SARA karena nama itu dianggap berbau Belanda, yang umum, ya "Paikem, Sumirah, Supini dll" Lho kok, malah nglantur ke situ ya.

4. Cenil

Yang hijau halus, yang putih kasar, yang merah namanya cenil perpaduan antara halus bercampur kasar jadinya kenyal. Rasa dan nikmatnya beda-beda tetapi ketika berada di alas yang sama dan bumbu yang sama (kelapa campur gula jawa) maka nikmatnya ampuun dah!  Ini yang dinamakan perbedaan, disatukan dalam wadah yang sama, sederhana, alami, tanpa di poles (jujur) akan menjadi sebuah orkestra kehidupan yang manis dan dinamis.

Cara makannya pun sederhana cukup ditusuk pake lidi gak perlu garpu. Gak perlu meja makan yang mengkilap. Gak perlu kamar hotel. Gak perlu menghabiskan keuangan negara. Cukup di teras rumah sambil nglimpruk, lupa dah!

5. Apem Contong
 

Apem Ada keterangan contong, karena apem ada berbagai macam bentuknya. Biasanya jajan ini dijadikan sebagai pelengkap orang selamatan (hajatan). anak-anak kecil biasanya menunggu apem ini sampe malam sebab doa-doa yang dibaca agak panjang.

Bentuknya kerucut, gampangnya seperti piramida. mengerucut pada satu titik di puncak.  Menggambarkan kehidupan manusia yang akhirnya mengerucut pada satu titik tujuan yaitu Allah. (bahasanya kayak dalang, ya?)

Ini saja dulu, beberapa nama makanan jadul yang bisa ditampilkan. Coba usulkan jika ada nama-nama lain yang mungkin penulis lupa.

Tenan ya! tak tunggu!

 



2 komentar:

  1. Jajan ini biasanya yang jualan mbah mbah yang disunggi di kepala

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

http://picasion.com/

Terbaru

    Facebook

    Total Tayangan

    About Me

    Foto Saya
    Paguyuban Kelompok Kerja Guru SD meliputi 24 kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi.Lahir 16 Januari 2008. Akta Notaris/PPAT,Muttaqien, S.H. dengan SK Menkeh R.I tanggal 03 Agustus 1992 Nomor C.186.03.01 Tahun 1992.